Si Kaya dan Si Miskin

Tersebutlah dua keluarga berdampingan rumah atau bertetangga. Yang satu adalah keluarga kaya raya dengan rumah gedung besar dan mewah, keluarga sebelahnya adalah keluarga miskin dengan rumah reyot dengan dinding dan atap yang bolong-bolong.

Suatu hari keluarga yang kaya sedang melintas di depan rumah si orang miskin yang nampak sedang makan dengan lahapnya sampai tiada sebutir nasipun tersisa di atas piring butut yang dipakai untuk makan.

Keluarga kaya heran dan bertanya,"Apa yang membuat kalian makan sangat asyik dan lahap, kalian makan apa? Lauk dan sayurnya apa?"

Keluarga miskin menjawab,"Sebenarnya kami hanya makan tiwul, kadang-kadang nasi doang atau bahkan kami lebih sering makan nasi aking, kuah sayur seadanya dan lauknya sambel terasi murahan."

Keluarga kaya bertanya,"Kok bisa makan enak apa rahasianya?"

Keluarga miskin menjawab,"Rahasianya mudah, yaitu setiap orang sebelah masak kami pun segera menyiapkan makanan dan selagi masakan di tetangga sebelah mengeluarkan bau harum maka kami pun menghirup bau semerbak makanan dari sebelah sambil menelan nasi aking, tiwul atau apapun yang kami makan hari itu. Ini sangat membantu nafsu makan kami."

Keluarga kaya berkata,"Rupanya kamu sekalian telah mencuri bau masakan dari dapur kami, pencurian ini harus mendapat hukuman setimpal dan kami akan menuntut ganti rugi."

Keluarga kaya segera bergegas ke Kantor Polisi dan melaporkan perihal pencurian itu. Perkara pun dengan segera naik ke pengadilan, maklumlah pengaduan dilakukan oleh orang kaya yang berpengaruh.

Hari pengadilan tiba dan keluarga miskin diadili.

Hakim bertanya,"Apakah benar kamu sekeluarga setiap hari menghirup bau makanan dari tetangga sebelah?"

Keluarga miskin menjawab,"Benar, Pak Hakim."

Hakim bertanya lagi,"Apakah benar kamu menghirup bau makanan tanpa ijin dari yang punya makanan?"

Keluarga miskin pun menjawab,"Benar, yang mulia."

Hakim bertanya lagi,"Apakah benar nafsu makan kamu bertambah setiap menghirup bau masakan tetangga kaya?"

Keluarga miskin menjawab,"Benar sekali, Pak Hakim."

Hakim kemudian berkata,"Berarti kamu memang bersalah dan untuk itu kamu si keluarga miskin harus membayar 100 kepeng uang logam."

Si miskin menangis begitu hakim memutuskan bahwa dia harus membayar ganti rugi kepada si kaya.

Kemudian si miskin berkata kepada hakim,"Yang mulia, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk membayar denda itu. Tapi mohon saya diberi waktu untuk mencari uang."


Hakim menjawab,"Carilah uang itu dan segera laporkan, uang itu akan dipakai membayar kerugian tetangga kaya."

Masalah ini sampai ke telinga seorang bijak yang sering membantu orang miskin. Dia pun mendatangi keluarga miskin dan mendalami masalah dan musibah yang menimpa tetangga miskin. Si orang bijak bersedia membantu untuk membayar denda 100 kepeng uang logam.

Pada hari yang ditentukan si orang bijak pun mendampingi keluarga miskin untuk menghadap Hakim.

Sidang pengadilan hari itu dihadiri oleh keluarga kaya dan para saksi. Keluarga kaya hari itu sungguh bersuka cita membayangkan 100 uang kepeng yang akan didapat dari tetangga miskin, sebaliknya tetangga miskin sangatlah bersedih dan susah karena tidak tahu apa yang akan diperbuat si orang bijak yang mau membela mereka.

Hakim bertanya,"Keluarga miskin apakah sudah siap dengan 100 uang kepeng logam?"

Si orang bijak menjawab,"Pak Hakim, saya yang akan membayar kerugian tetangga kaya sebesar 100 kepeng uang logam."

Hakim pun menjawab,"Baiklah kalau begitu. Mari kita lihat dan hitung uangnya. Hai tetangga kaya majulah untuk melihat uang kepeng logam itu dan menghitungnya supaya sah.

Si Orang bijak mengeluarkan kantung yang berisi uang dan sebuah wadah dari gelas besar yang tembus pandang. Dia pun mengajak orang untuk menghitung bersama. Karena harga yang dibayar sebesar 100 kepeng dan nilai uang kepeng yang dimiliki adalah 10 berarti akan ada 10 uang kepeng.

Si orang bijak mengeluarkan satu buah uang kepeng dan melemparkan ke dalam wadah hingga terdengar bunyi berdenting dan berteriak satu kepeng, diikuti oleh suara para saksi: satu kepeng, dua kepeng, dan seterusnya. 

Setelah genap seratus kepeng, orang bijak bertanya,"Apakah semua sudah melihat uang seratus kepeng tadi?" 

Semua menjawab,"Ssssuuuudaaaah!"

"Apakah kalian sudah mendengar bunyi dentingan uang kepeng yang masuk ke dalam wadah gelas tadi?"

Sekali lagi semua menjawab serempak,"Ssssuuuuuddddaaaah!"

Orang bijak kemudian berkata,"Kalau begitu, uangnya saya ambil lagi karena kalian sudah melihat dan mendengar suara dentingan uang kepeng ini. Suara dentingan uang kepeng ini sama dengan bau sedap makanan dari keluarga kaya yang dihirup oleh keluarga miskin. Dengan demikian semua sudah terbayar lunas."

Para saksi tak dapat berkata apa-apa, demikian pula keluarga kaya tak dapat mengucapkan sepatah kata pun.

Hakim kemudian memutuskan,"Karena tidak ada yang keberatan dengan cara pembayaran tadi maka dengan ini perkara dianggap selesai dan sidang pun kami tutup."

Keluarga miskin pun tersenyum lebar dan berterima kasih kepada si orang bijak dan kepada Pak Hakim.



0 comments: