Sedekah Buntut Singkong

Ada seorang penjual gorengan bernama Sutikno yang punya kebiasaan menyisakan buntut singkong goreng yang tak terjual. Sebelum pulang ke rumah, dia selalu memberikan sisa gorengan tersebut pada seorang bocah yang sering bermain di dekat tempatnya mangkal.

Tanpa terasa sudah dua puluh empat tahun Sutikno menjalani bisnis jual gorengannya tanpa ada perubahan yang berarti, masih mangkal di tempat yang sama dengan omset penjualan yang tidak berubah pula. Suatu hari datang seorang pria dengan penampilan elegan dan membawa mobil mewah berhenti di depan gerobaknya sambil bertanya,”Ada gorengan buntut singkong Bang?” “Kagak ada mas! Yang ada pisang sama singkong goreng”, balas Sutikno. “Saya kangen ama buntut singkongnya. Dulu waktu kecil dan ketika ayah saya baru meninggal tidak ada yang membiayai hidup saya. Teman-teman mengejek saya karena tidak bisa beli jajan. Saya waktu itu lalu lalang di depan gerobak abang, lalu abang memanggil saya dan memberi sepotong buntut singkong goreng,” ujar pria itu.

Sutikno terperangah, dia tidak mengira sepotong buntut singkong yang biasanya dibuang, bisa membuat pria itu mendatanginya dengan keadaan yang benar-benar berbeda. “Yang saya berikan dulu itukan cuma buntu singkong. Kenapa kamu masih ingat sama saya?” tanya penjual gorengan itu penasaran. “Abang tidak sekedar memberi saya buntut singkong, tapi juga kebahagiaan,” papar pria itu. Sesuatu yang dianggap remeh, tapi baginya hal itu membuat sangat bahagia sehingga ia berjanji suatu saat akan membalas budi baik penjual gorengan itu.

“Saya mungkin tidak bisa membalas budi baik Abang. Tapi, saya ingin memberangkatkan Abang berhaji. Semoga Abang bahagia,” ujar si pria. Penjual gorengan itu hampir-hampir tak percaya, inikah balasan dari bersedekah gorengan buntut singkong…

Menunggu


pada hakikatnya , setiap jengkal hal yang sedang kita lakukan ini adalah tentang menunggu

menunggu mati terutama

diantara menunggu kematian itu

kita menunggu hal-hal lain yang selalu menjadi misteri di masa depan

1 menit kedepan

1 jam kedepan
1 hari kedepan

1 tahun kedepan

diantara hal yang paling membuat kita merasa sangat lemah adalah menunggu kehadiran seseorang yang mampu menggenapkan sebuah hal yang tadinya setengah menjadi 1

seperti itulah  …

pada akhirnya , kita dituntut untuk terus konsisten terhadap apa yang kita tunggu

bersabarlah karena sesuatu yang ditunggu itu pasti akan datang …

sesuatu yang dijanjikan , bukan sekedar iming-iming

sesuatu yang dipastikan , bukan sekedar perkara mimpi

pada akhirnya , orang yang berhasil menyelesaikan waktu menunggunya dengan baik adalah orang-orang yang beruntung

mengisi waktu menunggu nya dengan berbagai hal yang membuatnya menjadi lebih baik …

entah dengan membaca buku

ataupun sekedar memahami kehidupan …

sekiranya kita tahu bahwa menunggu adalah sebuah kepastian

kenapa kita terus menerus berusaha menolak untuk sabar menunggu

padahal di depan sana …

ada sesuatu hal yang dipersiapkan untuk hadiah kesabaranmu …

jangan beranjak dari tempatmu , atau kamu akan kehilangan …

kehilangan apa ? tidak seorang pun tahu hingga ia melewati masa menunggunya dan bertemu dengan hal itu …

maka bersabarlah dalam hidup … .

kita sedang menunggu mati … , hal terakhir yang kita tunggu …

Sumber : http://kurniawangunadi.tumblr.com/post/25843962302/tulisan-menunggu

Memerangi Rasa Malas


Mengapakah kesibukan hidupmu hanya bertarung dengan rasa malas, saat semua orang sedang mengambil keuntungan dari kerja keras?

Hidup ini tidak mudah.

Tidak ada orang yang hidupnya mudah. Yang ada adalah orang yang memampukan dirinya lebih kuat daripada kesulitan hidup.

Jika mereka mampu, mengapakah engkau tidak?

Jika mereka bisa merajinkan diri, mengapakah engkau tetap memelihara rasa malasmu?

Ini hidupmu.

Jika bukan engkau yang menjadikannya baik, siapa lagi?

Come now, get up!

This is your life. Make it great!

~Mario Teguh